Seringkali, kita merasakan kekecewaan. Terhadap orang lain, terhadap diri sendiri, bahkan tak ayal terhadap sang Maha pencipta..
Sepanjang musim hujan tahun lalu, aku melambung tinggi. Terbang bersamanya menuju langit ketujuh berusaha menjemput pelangi yang terbelenggu. Tak terlalu banyak aral ketika itu, tapi aku menggenggam erat tangannya, terlalu erat hingga mungkin ia merasa letih.
Aku sempat menyadarinya, berhenti sejenak, menanyakan kabarnya. Kemudian ditepisnya dengan tatapan cinta dan senyuman hangat. Aku tak bisa mengelak, kupeluknya erat, bahkan lebih erat dari genggaman itu..
Hari berangsur berganti, hanya tinggal selangkah lagi mencapai langit ketujuh. Tapi aku baru mulai sadar, genggaman itu terasa longgar, tak terperdaya, dan terasa lebih lelah dari sebelumnya..
Aku kembali berhenti, menanyakan kabarnya, dan berharap mendapatkan tatapan sewaktu kemarin. Tetapi yang kudapati dia terdiam, tertunduk, dengan wajah yang begitu pucat. Lalu dia terduduk, melespakan tanganku, dan menyuruhku agar melanjutkannya sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar