Sabtu, 26 Juli 2014

fireworks!


Di saat petang mulai merajai, tidak sengaja aku melihat punggung itu..
punggung yang dibalut dengan sepi.
Tak ada orang disekelilingnya, bahkan anginpun enggan menyapa

Aku perlahan mendekat, menyentuh pundak dinginnya yang entah berapa windu tak terjabah.
Layaknya kembang api, cahayaku membuatnya silau. 
Dia terlena, dan tak ada yang urungkan niatnya untuk bermain, mengibaskan pendarku ke kri dan ke kanan, membuat api-api kecilku bergejolak dan melambung serupa bunga..
Akupun bahagia melihat senyum itu terukir diwajahnya, tawa itu meluap disekelilingku. 


Aku ingin terus seperti itu.. namun, berangsur cahayaku memudar,
dia pun berhenti bermain..
 melepaskanku,..
hingga apiku meredup dan menghilang ditelan malam..

Jumat, 25 Juli 2014

cerita baru yang akan menjadi cerita lama

Aku kembai bergelut pada keyboard yang sudah kusam ini. jejak jejak jariku dulu telah hilang, begitu juga dengan cerita yang menyertainya. Kini aku kembali, mengungkapkan sisi hidupku, mencurahkannya, dan berharap akan hilang seperti cerita terdahulu.

Seringkali, kita merasakan kekecewaan. Terhadap orang lain, terhadap diri sendiri, bahkan tak ayal terhadap sang Maha pencipta..

Sepanjang musim hujan tahun lalu, aku melambung tinggi. Terbang bersamanya menuju langit ketujuh berusaha menjemput pelangi yang terbelenggu. Tak terlalu banyak aral ketika itu, tapi aku menggenggam erat tangannya, terlalu erat hingga mungkin ia merasa letih.
Aku sempat menyadarinya, berhenti sejenak, menanyakan kabarnya. Kemudian ditepisnya dengan tatapan cinta dan senyuman hangat. Aku tak bisa mengelak, kupeluknya erat, bahkan lebih erat dari genggaman itu..

Hari berangsur berganti, hanya tinggal selangkah lagi mencapai langit ketujuh. Tapi aku baru mulai sadar, genggaman itu terasa longgar, tak terperdaya, dan terasa  lebih lelah dari sebelumnya..
Aku kembali berhenti, menanyakan kabarnya, dan berharap mendapatkan tatapan sewaktu kemarin. Tetapi yang kudapati dia terdiam, tertunduk, dengan wajah yang begitu pucat. Lalu dia terduduk, melespakan tanganku, dan menyuruhku agar melanjutkannya sendiri.

‘’Kita harus menyikapi segala bentuk kelelahan adalah ujian untuk kita, kita harus percaya dengan saling tetap bergenggam kita akan bisa melalui semua ini’’ kataku saat itu..

Tapi dia masih terdiam, mungkin terlewat letih. Dan hanya mengibaskan tangannya padaku…