Di saat petang mulai merajai, tidak sengaja aku melihat punggung itu..
punggung yang dibalut dengan sepi.
Tak ada orang disekelilingnya, bahkan anginpun enggan menyapa
Aku perlahan mendekat, menyentuh pundak dinginnya yang entah berapa windu tak terjabah.
Layaknya kembang api, cahayaku membuatnya silau.
Dia terlena, dan tak ada yang urungkan niatnya untuk bermain, mengibaskan pendarku ke kri dan ke kanan, membuat api-api kecilku bergejolak dan melambung serupa bunga..
Akupun bahagia melihat senyum itu terukir diwajahnya, tawa itu meluap disekelilingku.
Aku ingin terus seperti itu.. namun, berangsur cahayaku memudar,
dia pun berhenti bermain..
melepaskanku,..
hingga apiku meredup dan menghilang ditelan malam..